BILAL BIN RABAH RA – MUADZIN RASULULLAH

Renungan7 Dilihat

*BAGIAN 1: ANAK BUDAK DI MEKKAH*

Bilal bukan orang Arab asli. Ayahnya Rabah, ibunya Hamamah, keduanya budak dari Habasyah (Ethiopia) yang dibawa ke Mekkah.

Bilal lahir sekitar 43 tahun sebelum Hijrah. Sejak lahir, statusnya sudah budak. Ia dimiliki oleh Umayyah bin Khalaf, pemimpin Bani Jumah, musuh besar Islam.

Ciri fisik Bilal: kulit hitam pekat, tinggi kurus, hidung mancung, rambut keriting tebal. Di mata orang Quraisy, ia tidak ada harganya. Tugasnya hanya menggembala unta dan melayani tuan.

Tapi Bilal punya hati yang bersih. Ia tidak pernah sujud pada berhala. Hatinya selalu merasa ada yang salah dengan 360 berhala di Ka’bah.

*BAGIAN 2: MASUK ISLAM DIAM-DIAM*

Ketika Rasulullah ﷺ mulai berdakwah sembunyi-sembunyi di rumah Al-Arqam, Bilal mendengar tentang ajaran “Sembahlah Allah yang Esa”.

Tanpa pikir panjang, Bilal datang menemui Rasulullah dan mengucapkan syahadat. Ia termasuk *orang ke-7 yang masuk Islam* (Assabiqunal Awwalun).

Ia menyembunyikan keislamannya beberapa hari, tapi tidak lama. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak shalat.

Suatu hari Umayyah melihat Bilal shalat. Ia kaget dan marah.

*BAGIAN 3: SIKSAAN YANG TIDAK PERNAH DIALAMI SAHABAT LAIN*

Umayyah berkata: “Kamu berani mengkhianatiku? Kamu budakku!”

Siksaan dimulai:

*Hari Pertama:* Bilal dicambuk 100 kali sampai punggungnya berdarah.

*Hari Berikutnya:* Di siang hari paling panas di Mekkah (suhu pasir bisa 60 derajat), Bilal ditelanjangkan, hanya pakai celana pendek. Ia dibaringkan di atas pasir membara. Dadanya ditindih batu besar yang sangat berat, yang bahkan tidak sanggup diangkat satu orang.

Umayyah dan teman-temannya berdiri di atasnya sambil berkata: “Katakan Latta dan Uzza adalah tuhanmu! Katakan Muhammad itu pendusta!”

Orang-orang yang lewat melihatnya, tapi tidak ada yang berani menolong karena Umayyah adalah pembesar.

Apa jawaban Bilal?

Nafasnya sesak tertindih batu, bibirnya pecah-pecah, tapi ia terus mengulang dengan suara lirih yang membuat musuh gemetar:

> *”AHAD… AHAD… AHADUN AHAD…”*

Artinya: Allah itu Esa… Esa…

Siksaan ini berhari-hari, berminggu-minggu. Kadang ia diikat lehernya dengan tali dan disuruh anak-anak Mekkah menyeretnya keliling kota di atas batu panas.

Sampai-sampai Umayyah bosan. Ia berkata: “Aku akan terus menyiksamu sampai kau mati atau kau kembali menyembah berhala.”

*BAGIAN 4: DIBEBASKAN ABU BAKAR*

Kabar siksaan Bilal sampai ke Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.

Abu Bakar adalah pedagang kaya. Ia pergi menemui Umayyah.

Abu Bakar: “Tidakkah kau takut kepada Allah menyiksa budak lemah ini?”

Umayyah mengejek: “Kau yang merusaknya! Kau selamatkan saja kalau mau!”

Umayyah menawarkan harga yang sangat mahal: 9 uqiyah emas (harga budak biasa hanya 1 uqiyah).

Tanpa menawar, Abu Bakar langsung membayarnya.

Umayyah tertawa: “Seandainya kau tawar 1 uqiyah pun, aku akan jual!”

Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang terkenal:

> *”Seandainya kau minta 100 uqiyah pun, akan aku beli!”*

Sejak hari itu, Bilal merdeka. Rasulullah ﷺ sangat gembira. Abu Bakar memeluk Bilal dan berkata: “Engkau saudaraku.”

Setelah merdeka, Bilal tinggal bersama Abu Bakar dan selalu bersama Rasulullah.

*BAGIAN 5: MUADZIN PILIHAN RASULULLAH*

Setelah Hijrah ke Madinah, kaum muslimin bingung bagaimana cara memanggil shalat tepat waktu.

Sahabat Abdullah bin Zaid bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu seorang laki-laki membawa lonceng. Abdullah bertanya: “Maukah kau jual lonceng itu?” Laki-laki itu berkata: “Untuk apa?” Abdullah: “Untuk memanggil shalat.” Laki-laki itu berkata: “Maukah aku ajari yang lebih baik?” Lalu ia mengajarkan lafadz Adzan.

Abdullah menceritakan mimpinya kepada Rasulullah. Rasulullah berkata: “Itu mimpi yang benar dari Allah.”

Kemudian Rasulullah memanggil Bilal:

> *”Ya Bilal, qum fa adzin! Wahai Bilal, bangkitlah dan kumandangkan adzan! Karena suaramu lebih tinggi dan lebih merdu.”*

Sejak hari itu sampai Rasulullah wafat, tidak ada yang adzan kecuali Bilal.

Keistimewaan Bilal: Rasulullah juga memintanya untuk qamat dan bahkan membangunkan sahur. Bilal punya doa khusus sebelum subuh: “As-Shalatu Khairum Minan Naum” (Shalat lebih baik daripada tidur), yang kemudian disetujui Rasulullah menjadi bagian adzan subuh.

Suatu hari Rasulullah bersabda:

> *”Wahai Bilal, aku mendengar suara sandalmu di depanku di surga. Amalan apa yang paling engkau jaga?”*

Bilal menjawab: “Aku tidak melakukan apa-apa ya Rasulullah, kecuali setiap kali aku batal wudhu, aku langsung berwudhu lagi, dan shalat dua rakaat.”

*BAGIAN 6: SAAT PEMBEBASAN KOTA MEKKAH (FATHU MAKKAH)*

8 tahun setelah disiksa di Mekkah, Bilal kembali ke Mekkah bersama 10.000 pasukan Islam sebagai orang merdeka dan mulia.

Rasulullah masuk Ka’bah dan memerintahkan Bilal naik ke ATAS Ka’bah untuk adzan.

Bayangkan! Dulu Bilal diseret di bawah Ka’bah sebagai budak hina. Hari itu, ia berdiri DI ATAS Ka’bah yang suci, mengumandangkan “Allahu Akbar” di hadapan mantan tuannya, Umayyah yang sudah tewas, dan semua pembesar Quraisy.

Itulah hari pembalasan Allah yang indah.

*BAGIAN 7: ADZAN TERAKHIR YANG MEMBUAT MADINAH MENANGIS*

Ketika Rasulullah ﷺ sakit keras menjelang wafat, Bilal yang mengadzankan. Saat adzan, ia masuk ke rumah Rasulullah. Ia melihat Rasulullah sudah sangat lemah.

Setelah Rasulullah wafat, Bilal tidak sanggup lagi adzan. Setiap sampai lafadz “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, ia menangis karena tidak melihat Rasulullah lagi.

Ia minta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk pindah ke Syam (Syria) untuk berjihad. Abu Bakar awalnya tidak mengizinkan, tapi Bilal berkata: “Jika kau memerdekakanku untuk dirimu, tahanlah aku. Jika kau memerdekakanku untuk Allah, biarkan aku pergi kepada Allah.”

Akhirnya Abu Bakar mengizinkan.

*Bertahun-tahun di Syam, Bilal bermimpi Rasulullah.* Dalam mimpi, Rasulullah berkata lembut:

> *”Mah jafwatu ya Bilal? Ma anaha lak an tazurana? Wahai Bilal, alangkah kerasnya hatimu! Sudah lama kau tidak menziarahiku.”*

Bilal terbangun dengan tangis. Ia langsung naik kuda dari Syam ke Madinah, perjalanan 1 bulan tanpa berhenti.

Sampai di Madinah, ia ziarah ke makam Rasulullah sambil menangis. Hassan dan Husain, cucu kesayangan Rasulullah, datang memeluknya dan berkata: “Paman Bilal, kami rindu mendengar adzanmu seperti di zaman Kakek.”

Bilal tidak bisa menolak permintaan cucu Rasulullah.

Ia naik ke menara. Ia mulai adzan.

*Allahu Akbar… Allahu Akbar…*

Madinah gempar. Orang-orang kaget: “Apakah Rasulullah hidup kembali?”

Semua orang berhamburan keluar rumah. Semua menangis.

Ketika sampai:

*Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…*

Bilal tidak sanggup. Suaranya hilang. Ia tersungkur menangis. Seluruh penduduk Madinah, laki-laki, wanita, anak-anak, semua menangis sejadi-jadinya. Hari itu Madinah menangis paling keras setelah hari wafatnya Rasulullah.

Itulah adzan terakhir Bilal di Madinah.

*BAGIAN 8: WAFATNYA*

Bilal menetap di Daraya, Damaskus. Ia menjadi gubernur kecil di sana. Ia hidup sederhana, menikah, tapi tidak punya anak.

Tahun 20 H, saat wabah Tha’un, Bilal sakit keras menjelang wafat.

Istrinya menangis di sampingnya: “Ya wahasyah! Betapa sedihnya hari ini, suamiku akan pergi.”

Bilal membuka mata, tersenyum dengan wajah bercahaya, dan berkata kalimat terakhirnya yang sangat terkenal sampai hari ini:

> *”La… bal ya farhatahu! Ghadan nalqol ahibbah… Muhammadan wa Hizbah! Jangan bersedih, justru betapa bahagianya! Besok kita akan bertemu kekasih… Muhammad dan para sahabatnya!”*

Bilal wafat dalam senyum rindu.

Dimakamkan di pemakaman Bab As-Shaghir, Damaskus, Syria.

—

*HIKMAH BESAR DARI KISAH BILAL:*

1. *Kemuliaan bukan dari warna kulit atau jabatan, tapi dari takwa.* Allah angkat derajat budak hitam menjadi penghuni surga.
2. *Istiqamah dengan kata “Ahad”.* Kalau kita istiqamah mengucap Tauhid saat sulit, Allah akan angkat derajat kita setinggi-tingginya.
3. *Cinta sejati kepada Rasulullah.* Bilal tidak bisa hidup di kota yang tidak ada Rasulullahnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *