Tulisan Guru4 Dilihat

Kisah Anak yang Tahu Diri dan Tahu Diuntung

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak bernama Rian. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sedangkan ibunya berjualan gorengan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meskipun hidup serba kekurangan, kedua orang tuanya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Rian. Mereka rela menahan lapar demi memastikan anaknya bisa makan dan bersekolah.

Rian tumbuh menjadi anak yang baik. Ia selalu membantu ibunya berjualan sepulang sekolah, tidak pernah malu dengan pekerjaan orang tuanya, dan selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya.

Suatu hari, Rian mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia belajar dengan tekun hingga akhirnya berhasil menjadi orang sukses.

Setelah sukses, Rian tidak melupakan perjuangan kedua orang tuanya. Ia membelikan rumah yang layak untuk mereka, memenuhi kebutuhan mereka, dan selalu pulang untuk menjenguk serta merawat mereka.

Ketika teman-temannya bertanya, “Kenapa kamu masih repot-repot mengurus orang tuamu? Kamu kan sudah sukses dan bisa menikmati hidupmu sendiri.”

Rian tersenyum lalu menjawab,

“Aku bisa berdiri seperti sekarang bukan semata-mata karena usahaku sendiri. Ada doa, keringat, dan pengorbanan orang tuaku di balik semua ini. Bagaimana mungkin aku melupakan mereka setelah aku berhasil?”

Orang-orang yang mendengar jawaban itu pun terdiam.

Rian tahu bahwa kesuksesan bukan alasan untuk melupakan asal-usulnya. Ia sadar bahwa orang yang benar-benar tahu diuntung bukanlah orang yang sekadar pandai berterima kasih, melainkan orang yang tidak melupakan kebaikan orang lain ketika hidupnya sudah jauh lebih baik.

Pesan moral:

Jadilah anak yang tahu diri dan tahu diuntung. Jangan sampai ketika hidup masih susah, kita mengingat orang yang membantu kita, tetapi ketika sudah sukses, kita justru melupakan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *