*Kisah Pejuang Wanita Islam di Zaman Nabi Muhammad ﷺ*
1. *Nusaibah binti Ka’ab – Ummu ‘Umarah al-Anshariyyah*
Gelarnya “Singa Wanita Madinah”.
Kisah paling terkenal: Perang Uhud 625 M. Awalnya Nusaibah datang untuk memberi minum pasukan. Saat pasukan Muslim goyah, ia langsung ambil pedang dan perisai.
Ia melindungi Nabi ﷺ dari serangan musuh. Tubuhnya penuh luka — 12 luka tusuk dan tebas. Lengan kanannya hampir putus saat menahan serangan Ibnu Qamiah yang mau membunuh Nabi.
Nabi ﷺ bersabda tentangnya: _“Kemana pun aku menoleh di Perang Uhud, aku melihat Ummu ‘Umarah bertempur membelaku.”_
Setelah perang, Nabi mendoakannya agar masuk surga bersamanya.
2. *Asma’ binti Yazid al-Anshariyyah – Juru Bicara Wanita Anshar*
Dipanggil “Khatibah an-Nisa’”. Ia tidak terkenal bertempur, tapi di Perang Yarmuk 636 M ia ikut turun ke medan.
Saat melihat pasukan Muslim mundur, ia mengambil tiang kemah dan memukul mundur tentara Romawi. Beberapa riwayat menyebut ia membunuh 9 tentara Romawi dengan tiang itu.
Ia juga aktif mengobarkan semangat wanita Madinah untuk ikut berjihad dan merawat yang terluka.
3. *Safiyyah binti Abdul Muththalib – Bibi Nabi ﷺ*
Di Perang Khandaq 627 M, para wanita dan anak-anak ditempatkan di benteng Far’i untuk keamanan.
Saat seorang Yahudi Bani Quraizhah mengintai benteng, Safiyyah yang sudah tua mengambil tiang kemah, memukulnya hingga tewas. Ia lakukan itu agar musuh mengira benteng dijaga pasukan kuat, sehingga tidak berani menyerang wanita dan anak-anak.
Keberanian dan siasatnya menyelamatkan puluhan nyawa.
4. *Ummu Sulaim binti Milhan*
Istri Abu Thalhah, ibu Anas bin Malik.
Di Perang Hunain 630 M, ia membawa belati dan ikut ke medan. Saat ditanya, ia jawab: _“Aku membawa ini. Jika ada musuh yang mendekatiku, akan kubelah perutnya dengan ini.”_
Ia juga merawat korban luka bersama wanita Anshar lainnya. Nabi ﷺ memuji peran wanita Anshar yang selalu siap membantu di belakang garis depan.
5. *Khaulah binti al-Azwar*
Walau ia hidup di era Khulafaur Rasyidin setelah wafatnya Nabi, ia mulai dikenal karena semangat jihadnya sudah terbentuk di zaman Nabi.
Ia bertempur menyamar sebagai laki-laki di Perang Ajnadain dan Yarmuk. Keberaniannya membuat pasukan Muslim mengira ada ksatria baru muncul. Setelah diketahui ia wanita, semangat pasukan makin berkobar.
—
*Peran Umum Wanita di Zaman Nabi*
Selain bertempur, tugas utama wanita di medan perang adalah:
1. *Merawat yang luka* – Seperti Rufaidah al-Aslamiyyah yang mendirikan tenda medis pertama di Islam.
2. *Menyiapkan logistik & memberi minum* – Membawa air, makanan untuk pasukan.
3. *Mengobarkan semangat* – Dengan syair, doa, dan keteguhan.
4. *Menjaga benteng & keluarga* – Saat laki-laki pergi perang.
Nabi ﷺ sendiri tidak melarang wanita ikut perang, selama ada kebutuhan dan menjaga adab. Beliau bersabda: _“Wanita juga berjihad, yaitu haji dan umrah.”_ [HR. Bukhari]










