Ulama terdahulu menjadikan menuntut ilmu sebagai nafas hidup. Bagi mereka, ilmu bukan sekadar gelar, tapi jalan menuju Allah. Mereka tempuh ribuan kilometer, begadang berbulan-bulan, dan habiskan harta demi satu hadis atau satu masalah fiqih.
Imam Bukhari رحمه الله Menempuh perjalanan ke Syam, Mesir, Baghdad, dan Hijaz demi mengumpulkan hadis. Beliau berkata: “Aku menulis dari 1080 guru, semuanya ahli hadis.”. Bahkan pernah tidak makan 3 hari karena uangnya habis dipakai untuk tinta dan kertas.
Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله Pergi menuntut ilmu dengan berjalan kaki. Sandalnya putus berkali-kali,ditanya: “Sampai kapan engkau membawa tinta?” Beliau jawab: “Dari buaian hingga ke liang lahat.”
Ibnu Abbas رضي الله عنهما Sepupu Nabi ﷺ yang dijuluki Hibrul Ummah. Saat kecil, beliau menunggu di depan rumah sahabat senior sejak zuhur sampai mereka bangun tidur siang, kepanasan di terik, hanya demi satu hadis. Beliau berkata: “Aku merendahkan diri ketika menuntut ilmu, maka aku dimuliakan ketika dibutuhkan orang.”
Imam Syafi’i رحمه الله Berangkat ke Madinah usia 13 tahun, hafal Al-Muwaththa’ Imam Malik dalam 9 malam. Beliau berpesan: “Barangsiapa tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka ia harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”
Ulama dulu lapar, miskin, diasingkan, tapi tidak pernah berhenti. Karena mereka paham sabda Nabi ﷺ “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim. Semoga kita bisa tetap menjaga semangat dalam menuntut ilmu.










