*Cerita Rakyat Asal Usul Suku Jambak Minangkabau*
*Versi 1: Dari “Jambak Rambut” Si Bungsu*
Dahulu kala di Pagaruyuang hiduplah seorang raja yang punya 3 orang putri.
Suatu hari sang raja menguji anak-anaknya. Beliau menyuruh mereka mengambil air di Batang Kuantan dengan 3 syarat:
1. Pergi sendiri
2. Tidak boleh menoleh ke belakang
3. Airnya tidak boleh tumpah
Kak pertama dan kedua gagal. Di tengah jalan mereka menoleh karena mendengar suara harimau, akhirnya airnya tumpah.
Si bungsu yang paling kecil berhasil. Tapi karena buru-buru, rambutnya yang panjang tergerai dan tersangkut dahan. Dia menjambaknya agar tidak mengganggu.
Sesampai di istana, raja melihat rambut si bungsu kusut dan banyak yang putus karena dijambak. Raja bertanya: “Anak den, kok jambak angkau kusut bana?”
Si bungsu menjawab: “Ayahlah nan manyuruah capek, Mak. Ambo jambak sajo rambuik ko”.
Karena keberanian dan kejujurannya, raja menganugerahkan kaum/kaum kepada si bungsu. Keturunannya lalu disebut *”Kaum Jambak”* karena asal-usul menjambak rambut tadi.
Ciri kaum Jambak: tegas, tidak banyak cakap, dan menjunjung tinggi musyawarah.
*Versi 2: Dari Datuk Jambak Perantau*
Zaman dahulu ada seorang pemuda sakti bernama *Datuk Jambak*. Beliau ini perantau dari daerah Jambak di Pesisir Selatan.
Datuk Jambak merantau ke Luhak Tanah Datar membawa ilmu agama dan ilmu adat. Karena ilmunya tinggi dan rambutnya selalu diikat ke atas, orang kampung memanggilnya “Datuk nan bajambak”.
Datuk Jambak kemudian menetap, menikah, dan membuka kampung. Murid-muridnya banyak. Setelah beliau wafat, keturunan dan anak didiknya membentuk satu kaum dan menamakan dirinya *Suku Jambak* untuk mengenang gurunya.
Suku Jambak lalu bergabung ke dalam *Bodi Caniago* karena sepaham: menyelesaikan masalah dengan duduk basuo, “kato mupakaik”.
*Makna Filosofinya*
1. *”Jambak” = Mandiri & Tegas*
Menjambak rambut artinya berani mengambil keputusan sendiri tanpa menyusahkan orang.
2. *Masuk Bodi Caniago*
Suku Jambak menjunjung demokrasi. Tidak ada yang paling tinggi. “Duduak samo randah, tagak samo tinggi”
3. *Pantang Menyerah*
Seperti si bungsu yang tetap jalan walau rambutnya tersangkut.
Sampai sekarang kalau ada orang Jambak disuruh jadi penghulu, syarat utamanya: pandai baso basi, adil, dan berani “bakato bana walaupun pahik”.
Mau aku carikan juga pantun atau ungkapan adat khas Suku Jambak? Atau mau versi silsilah dari Tambo Alam Minangkabau?










