Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah individual. Ramadhan adalah madrasah kehidupan, termasuk madrasah untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan utama puasa adalah takwa, yaitu kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ketika takwa tumbuh dalam diri suami, istri, dan anak-anak, maka interaksi keluarga pun berubah.
Puasa melatih diri tentang kesabaran, pengendalian emosi, penguatan empati, disiplin dan tanggung jawab
Semua nilai ini adalah fondasi keluarga sakinah.
1. Puasa Melatih Kesabaran: Pondasi Sakinah
Konflik rumah tangga sering kali dipicu oleh emosi yang tak terkendali. Ramadhan hadir untuk melatih kontrol diri.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj : “Puasa itu perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bertengkar…”
Jika prinsip ini diterapkan di rumah, suasana akan lebih tenang. Suami lebih mampu menahan amarah, istri lebih lembut dalam berbicara, anak-anak pun belajar mengontrol diri.
Sakinah lahir dari jiwa yang terlatih.
2. Kebersamaan Ibadah Menumbuhkan Mawaddah
Ramadhan memperbanyak momen kebersamaan: Sahur bersama, Berbuka bersama, Shalat tarawih, Tadarus Al-Qur’an.
Momen-momen ini memperkuat ikatan emosional dan spiritual. Ketika keluarga berdiri dalam satu saf shalat, mereka tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga tujuan hidup: mencari ridha Allah.
Allah ﷻ berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai sosok yang lembut dalam keluarga. Beliau membantu pekerjaan rumah dan memperlakukan keluarganya dengan penuh kasih.
Ramadhan adalah kesempatan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan rumah tangga.
3. Empati Sosial Melahirkan Rahmah
Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari pengalaman ini tumbuh empati.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang.”
(HR. Abu Dawud dan Al-Tirmidhi)
Ketika empati meningkat: Suami lebih memahami kelelahan istri, Istri lebih menghargai perjuangan suami, Orang tua lebih peka terhadap kebutuhan anak
Rahmah menjadikan rumah sebagai ruang saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Strategi Praktis Membangun Keluarga Sakinah di Bulan Ramadhan
Agar Ramadhan benar-benar berdampak pada kualitas keluarga, berikut beberapa langkah praktis:
1. Jadikan Rumah Pusat Ibadah. Hidupkan shalat berjamaah dan tadarus bersama.
2. Bangun Komunikasi yang Lembut. Biasakan mengucapkan terima kasih dan saling mendoakan.
3. Biasakan Saling Memaafkan. Jangan simpan luka lama. Ramadhan adalah bulan ampunan.
4. Libatkan Anak dalam Aktivitas Ibadah. Ajarkan makna puasa, sedekah, dan kepedulian sosial sejak dini.
5. Pertahankan Spirit Ramadhan Setelahnya. Jangan biarkan nilai-nilai sabar dan empati berhenti saat Syawal tiba.
Dari Ramadhan Menuju Keluarga Surga
Ramadhan adalah latihan. Jika selama sebulan kita mampu:
-
Menahan amarah
-
Mengontrol ucapan
-
Memperbanyak doa
-
Menguatkan kebersamaan
Maka seharusnya setelah Ramadhan, rumah kita menjadi lebih damai dari sebelumnya.
Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa ujian. Ia adalah keluarga yang menjadikan iman sebagai solusi atas setiap persoalan.
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi titik balik bagi rumah tangga kita, sehingga lahir keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah—keluarga yang dirindukan surga dan diberkahi Allah ﷻ.










