_Asal Usul Kota Payakumbuh_
Zaman dahulu kala, di kaki Gunung Sago dan Gunung Merapi, terbentang sebuah dataran luas yang dipenuhi rawa dan ladang subur. Airnya jernih, tanahnya hitam, dan tumbuh-tumbuhan hidup dengan lebat. Daerah itu belum bernama. Yang tinggal di sana hanyalah beberapa kaum yang hidup bertani dan beternak.
Suatu hari datanglah dua orang perantau gagah dari Luhak Tanah Datar. Yang satu bernama *Datuk Kuning*, badannya tinggi besar dan sangat suka mengadu ayam. Yang satu lagi bernama *Datuk Hitam*, sahabatnya, tapi mereka sama-sama punya ayam jago kebanggaan.
Datuk Kuning punya ayam jago bernama *Si Gagah*. Bulunya kuning keemasan, taji nya tajam, dan belum pernah kalah.
Datuk Hitam punya ayam jago bernama *Si Kumbuh*. Badannya tidak terlalu besar, tapi lincah dan cerdik.
Karena sama-sama sombong, akhirnya mereka bertaruh. “Mari kita adu ayam di tanah lapang ini. Siapa yang menang, dialah yang berhak membuka kampung di sini,” kata Datuk Kuning.
Maka berkumpullah seluruh masyarakat. Di tengah rawa yang luas itu dibuatlah gelanggang. Sorak sorai terdengar.
Pertarungan dimulai.
Si Gagah menyerang lebih dulu, mematuk dan mencakar dengan ganas. Si Kumbuh menghindar, lalu membalas. Jam demi jam berlalu. Keringat dan darah membasahi tanah.
Karena terlalu lama bertarung, akhirnya Si Gagah menang. Si Kumbuh kalah telak. Badannya lebam, sayapnya patah, dan seluruh tubuhnya *”kumbuh”* = bengkak-bengkak.
Datuk Hitam sedih, tapi ia ikhlas. “Sudahlah, tanah ini memang milikmu,” katanya.
Setelah kejadian itu, orang-orang mulai menyebut tempat pertarungan tadi dengan sebutan *”Paya si Kumbuh”*.
*”Paya”* artinya rawa atau tempat lapang.
*”Kumbuh”* artinya bengkak karena kalah bertarung.
Lama-kelamaan, orang luar yang datang berdagang jadi susah menyebut “Paya si Kumbuh”. Lidah mereka lebih mudah mengucap *”Payakumbuh”*.
Seiring waktu, rawa itu dikeringkan dan dijadikan sawah. Karena tanahnya sangat subur, siapa saja yang datang ke sini pasti *”kumbuh”* = tumbuh, berkembang, dan sejahtera. Para pedagang, ulama, dan guru pun berdatangan.
Akhirnya para ninik mamak bermufakat. “Biarlah nama ini jadi pengingat. Payakumbuh artinya tempat yang dulunya rawa, tapi sekarang menjadi negeri yang subur dan membuat orangnya tumbuh maju.”
Begitulah, sejak saat itu dataran subur di kaki Gunung Sago itu resmi disebut *KOTA PAYAKUMBUH*.
Hingga sekarang, orang Payakumbuh dikenal pekerja keras, suka berdagang, dan tanahnya tidak pernah kekurangan hasil bumi. Konon, siapa saja yang datang ke Payakumbuh pasti “kumbuh” rezekinya.
_Tamat_
–
Mau aku bikinin sekalian versi *naskah drama 5 orang + properti sederhana* nya?
Biar bisa langsung dipentaskan di sekolah 🙌










