*Legenda Batu Bedil di Payakumbuh*
Dahulu kala di nagari Payakumbuh, hiduplah seorang panghulu bijak bernama Datuk Rajo Nan Sati. Payakumbuh waktu itu subur, sawahnya menghijau sampai ke kaki Bukit Barisan. Tapi tiap musim kemarau, air dari Batang Agam sering kering. Warga mulai bertengkar karena berebut air.
Suatu malam Datuk bermimpi didatangi seorang nenek tua berpakaian putih. “Di balik Bukit Limbukan ada batu besar. Jika kau bisa memecahkannya dengan satu tembakan, dari dalamnya akan keluar mata air yang tak pernah kering. Tapi ingat, niatmu harus untuk orang banyak, bukan untuk diri sendiri,” kata nenek itu.
Keesokan harinya Datuk mengumpulkan pemuda nagari. Mereka naik ke bukit dan benar saja, ada batu raksasa sebesar rumah gadang. Semua mencoba memukul, mencongkel, tapi batu itu tak bergeming.
Akhirnya Datuk mengambil bedil pusaka peninggalan nenek moyangnya. Ia berwudhu, shalat, lalu mengarahkan bedil sambil berdoa: “Ya Allah, jika ini untuk kemaslahatan anak nagari, kabulkanlah.” _Duaar!_
Batu itu terbelah. Dari celahnya mengucur air jernih yang deras. Lama-lama membentuk aliran yang sampai sekarang dikenal warga sebagai sumber air untuk sawah Payakumbuh. Batu yang terbelah itu masih ada sampai sekarang. Orang-orang menyebutnya *Batu Bedil*.
Sejak itu Datuk berpesan: “Air ini titipan. Jaga kebersamaan seperti air yang mengalir. Kalau tamak, sumbernya akan berhenti.”
Kamu mau yang nuansanya legenda, sejarah, atau yang ringan dan lucu?










