Pelabuhan Dan Waktu Yang Berlayar

Di tepi laut yang dipenuhi aroma asin dan angin malam, pelabuhan selalu tampak seperti tempat yang setengah menunggu. Kapal-kapal datang membawa cerita dari jauh, lalu pergi lagi sebelum sempat benar-benar tinggal. Dan aku, berdiri di antara suara ombak dan lampu-lampu redup itu, belajar bahwa hidup memang tak pernah pandai menetap.
Langit malam di atas laut terasa begitu luas, seolah mampu menampung segala resah yang tidak sempat diucapkan. Ombak bergerak perlahan menyentuh dermaga, seperti seseorang yang mencoba kembali setelah terlalu lama hilang arah. Tidak terburu-buru, tidak pula benar-benar tenang.
Ada sesuatu tentang laut yang sulit dijelaskan.
Ia tampak kuat di permukaan, namun menyimpan banyak hal di kedalamannya. Sama seperti manusia, yang sering terlihat baik-baik saja meski hatinya sedang penuh badai. Dan dari sana aku mengerti bahwa tidak semua luka harus diperlihatkan agar bisa dianggap nyata.
Malam terus berjalan, sementara kapal terakhir perlahan menjauh dari pelabuhan. Lampunya mengecil sedikit demi sedikit sampai akhirnya hilang ditelan gelap. Anehnya, perpisahan di laut selalu terasa lebih sunyi—seolah angin ikut membawa sebagian dari hal-hal yang tidak sempat dipertahankan.
Namun ombak tidak pernah berhenti kembali.
Ia terus datang meski tahu akan pecah di tepian. Dan mungkin begitulah harapan bekerja dalam diri manusia: tetap hidup, bahkan setelah berkali-kali kecewa.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah pengembara yang sedang belajar pulang. Bukan menuju tempat tertentu, melainkan menuju hati yang akhirnya mampu menerima bahwa tidak semua perjalanan harus dimengerti untuk bisa dijalani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *