Untukmu Yang Diam-diam Menggenggam Hatiku

Tulisan Guru97 Dilihat

Seringkali Aku Menarik Nafas Setiap ragamu melintas seperti ada denyut yang menari di sela dada, membentuk gelombang tanya, apakah kau punya getaran yang sama, aku mencoba menepisnya, tapi tiap kali kudengar namamu bergetae di udara, rasaku kembali menyeruak bak cahaya yang mencari celah, memaksa hatiku mengakui bahwa menundudukan bola mata tak pernah benar-benar bisa meredam cinta, entah bagaimana kehadiranmu menjelma semacam tempat yang tak pernah kutinggali, tapi selalu kurindulkan sebuah batas di mana aku berhenti menjadi siapapun, lalu menjadi seseorang yang pasrah menunggu harapan kecil bertunas di tanah yang mungkin tak pernah kau jaga.

setiap langkahmu seakan menyentuh tepi jiwaku-singkat, sama namun cukup untuk menimbulkan riak yang senantiasa membuatku bertanya, mengapa seseorang yang tak tergenggam bisa sedekat itu pada batin seseorang, ada hari dimana akuingin menjagaku dunia yang berputar di sekitarmu, meminjam satu detik saja untuk menjadi alsan yang kau jaga.

tapi setiap kali imaji itu kubangun keberanian runtuh seperti debu yang tak punya berat meninggalkan aku pada sunyi yang terlampau jujur, bahwa aku takut kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki sebelumnya. dan rasa itru, rasa itu merayap bagai garis air yang tak kasat mata, mengalir tanpa suara, membuatku mengerti bahwa mencintai dalam diam adalah cara paling halus untuk patah dan bahagia dalam satu irama, kadang aku ingin marah pada takdir yang mengajarkanku banyak hal melalui jarak, namun di balik seluruh getir itu, aku masih percaya bahwa hadirmu bukan sekedar singgah, melainkan aba-aba yang menuntunku kembali pada perintahnya.

aku percaya setiap kalimat cinta yang tulus adalah doa yang sampai padanya meski tak sampai padamu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *