Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati – Brian Khrisna

Tulisan Guru7 Dilihat

Seorang laki-laki yang merasa hidupnya berantakan memutuskan sesuatu yang ekstrem: ia ingin mengakhiri hidupnya. Dunia terasa terlalu bising, terlalu berat, dan terlalu sepi dalam waktu yang bersamaan. Namun sebelum benar-benar pergi, ia punya satu permintaan sederhana—seporsi mie ayam.

Di warung mie ayam yang hangat dan biasa saja itu, ia duduk sendirian. Semangkuk mie ayam datang dengan kuah tipis, potongan ayam manis, pangsit, dan sambal. Sesuatu yang dulu sering ia makan tanpa pikir panjang. Tapi kali ini berbeda. Ia memakannya pelan-pelan, seolah itu adalah pengalaman terakhirnya merasakan dunia.

Di antara suapan, ia mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu membuatnya bertahan: tawa teman, pesan singkat dari seseorang yang pernah ia sayangi, aroma hujan, dan obrolan sederhana di pinggir jalan. Hal-hal yang tampak remeh, tapi ternyata menyimpan alasan untuk tetap hidup

Seporsi mie ayam itu menjadi simbol: bahwa hidup mungkin sesederhana menikmati yang kecil-kecil, meski masalah tak pernah benar-benar hilang. Bahwa sebelum benar-benar menyerah, mungkin kita hanya butuh satu alasan kecil untuk bertahan—meski itu cuma semangkuk mie ayam.

Aku pikir hidup harus punya alasan besar untuk dipertahankan. Cita-cita tinggi, cinta yang agung, atau mimpi yang gemilang. Tapi ternyata tidak selalu begitu. Kadang, hidup hanya butuh satu alasan kecil untuk tetap dijalani. Satu obrolan hangat. Satu pesan singkat yang tulus. Atau bahkan sesederhana seporsi mie ayam yang dimakan pelan-pelan, sambil menyadari bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan rasanya.”

Kupikir hidup harus ditopang oleh alasan-alasan besar agar layak diperjuangkan. Tentang mimpi yang gemilang atau cinta yang megah. Tapi di depan semangkuk mie ayam yang mengepul ini, aku sadar: kadang yang membuat seseorang bertahan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Hanya rasa hangat yang singgah sebentar. Hanya kenangan kecil yang menolak hilang. Hanya satu momen sederhana yang berbisik, ‘Tunggu sebentar lagi. Dunia belum sepenuhnya kejam.’ Dan mungkin, selama aku masih bisa merasakan hangatnya kuah ini, masih ada bagian dari diriku yang ingin tetap hidup.”

Cerita ini bukan hanya tentang kematian, tapi tentang jeda. Tentang bagaimana dalam momen paling gelap, manusia masih bisa menemukan cahaya dari hal yang sangat sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *