“Sepiring Nasi di Waktu Maghrib”
oleh : Anifal Ardi
============
Di sebuah sudut kampung kecil di pinggiran kota Padang, hiduplah seorang lelaki tua bernama Pak Karim. Rumahnya berdinding papan lapuk. Atapnya bocor di sana-sini. Ia bekerja serabutan—kadang jadi buruh angkut di pasar, kadang membantu orang membersihkan kebun. Penghasilannya tidak menentu. Bahkan sering kali, untuk makan sehari-hari pun ia harus menunggu belas kasih tetangga.
Ramadhan tiba.
Sebagian orang menyambutnya dengan stok bahan makanan, sirup beraneka rasa, dan hidangan berbuka yang melimpah. Pak Karim? Ia hanya memiliki segenggam beras dan sedikit garam.
Namun, ia tetap tersenyum.
“Kalau Allah beri lapar, berarti Allah mau saya ingat kepada-Nya,” gumamnya pelan.
Sejak muda, Pak Karim selalu berpegang pada firman Allah dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Baginya, puasa bukan soal ada atau tidaknya makanan saat berbuka. Puasa adalah tentang keyakinan.
Hari Pertama Ramadhan
Sejak sahur hanya dengan air putih dan sedikit nasi, Pak Karim tetap bekerja seperti biasa. Menjelang siang, tubuhnya mulai lemas. Panas matahari terasa membakar kulit. Perutnya kosong. Tetapi lisannya terus berzikir.
Sore hari, ia pulang dengan tangan hampa. Tak ada upah hari itu.
Ia duduk di depan rumahnya yang sederhana. Di dapur hanya tersisa segenggam beras. Ia memasaknya perlahan. Hasilnya hanya sepiring nasi putih tanpa lauk.
Ketika azan Maghrib berkumandang, ia mengangkat tangan.
“Ya Allah, terima puasaku. Ini saja yang Engkau beri, maka ini cukup bagiku.”
Belum sempat ia menyentuh nasi itu, terdengar suara tangisan kecil dari rumah sebelah. Ternyata anak tetangganya sakit dan belum makan sejak siang.
Pak Karim terdiam.
Ia menatap nasi di hadapannya. Lalu ia berdiri, membawa piring itu, dan mengetuk pintu tetangganya.
“Ini untuk anakmu. Saya masih kuat.”
Padahal ia tahu, ia pun sangat lapar.
Ia teringat sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Malam itu, Pak Karim berbuka hanya dengan air putih.
Ia tidur dalam keadaan lapar, tetapi hatinya tenang.
Keajaiban yang Tak Disangka
Keesokan paginya, seorang lelaki datang ke rumahnya. Ternyata pemilik toko di pasar tempat Pak Karim sering membantu.
“Saya dengar dari tetangga, Bapak memberikan makanan terakhir untuk anak yang sakit itu,” katanya.
Pak Karim hanya tersenyum malu.
Lelaki itu melanjutkan, “Saya butuh orang yang jujur dan amanah untuk membantu toko saya selama Ramadhan. Upahnya tetap setiap hari.”
Pak Karim tertegun. Air matanya jatuh.
Ia teringat firman Allah: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Sejak hari itu, kehidupannya perlahan berubah. Ia memang tidak menjadi kaya raya. Tetapi ia tidak lagi kekurangan. Bahkan setiap berbuka, ia kini bisa berbagi kepada orang lain.
Berkah yang Sebenarnya
Namun, yang paling besar bukanlah rezeki materi.
Yang paling besar adalah ketenangan hati.
Pak Karim pernah berkata kepada seorang pemuda di kampungnya:
“Berkah itu bukan banyaknya makanan di meja. Berkah itu ketika hati kita penuh yakin kepada Allah meski meja kita kosong.”










