Ketulusan adalah bahasa hati yang paling jujur, lahir tanpa pamrih dan tanpa perhitungan. Ia hadir dalam bentuk perhatian kecil, pengorbanan diam-diam, serta doa-doa yang tak pernah disebutkan namanya. Namun, tidak semua ketulusan menemukan tempat yang layak. Ada kalanya ia justru jatuh di tangan yang salah, pada seseorang yang menganggapnya biasa saja, seolah ketulusan adalah hal yang memang sudah seharusnya diterima tanpa perlu dihargai.
Seseorang bisa memberi dengan sepenuh hati, mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi demi melihat orang lain tersenyum. Ia bertahan lebih lama, memaafkan lebih cepat, dan memahami lebih dalam. Sayangnya, ketika ketulusan itu tidak disambut dengan kesadaran yang sama, ia perlahan berubah menjadi luka. Bukan karena ia menyesal telah memberi, melainkan karena ia sadar bahwa perasaannya tidak pernah benar-benar dipedulikan.
Yang paling menyakitkan bukanlah penolakan, melainkan pengabaian. Ketika usaha dianggap berlebihan, ketika kesetiaan dianggap kelemahan, dan ketika kasih yang murni justru diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Di titik itu, ketulusan mulai belajar untuk membatasi diri. Ia tidak lagi memberi tanpa batas, karena ia pun memiliki harga diri yang harus dijaga.
Pada akhirnya, ketulusan yang disia-siakan bukanlah tentang kebodohan seseorang dalam mencintai, tetapi tentang ketidaksiapan orang lain dalam menghargai. Ketulusan tetaplah sesuatu yang mulia, meski pernah jatuh di tempat yang salah. Ia mungkin terluka, namun tidak kehilangan nilainya. Karena suatu hari nanti, ketulusan itu akan menemukan hati yang mampu menjaganya, bukan lagi menyia-nyiakannya.










