Renungan Diri Akan Kematian

Renungan24 Dilihat

Kematian adalah satu-satunya kepastian yang sering kita lupakan. Ia tidak meminta izin, tidak menunggu kesiapan, dan tidak mengenal usia. Setiap hari kita sibuk mengejar dunia—pekerjaan, rencana, impian—seolah waktu adalah milik kita sepenuhnya. Padahal, setiap detik yang berlalu adalah jarak yang semakin dekat menuju akhir perjalanan.

Mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti hati, tetapi untuk membangunkannya. Ia mengajarkan kita tentang keterbatasan diri dan rapuhnya manusia. Betapa banyak rencana yang tersusun rapi, namun gugur dalam satu tarikan napas terakhir. Betapa banyak kata yang ingin diucapkan, namun terhenti oleh ajal yang datang lebih dulu.

Renungan tentang kematian membuat kita bertanya dengan jujur: sudahkah hidup ini bermakna? Sudahkah kita memaafkan, meminta maaf, dan berbuat baik dengan ikhlas? Ataukah kita masih sibuk menyimpan dendam, kesombongan, dan cinta pada dunia yang sementara?

Kematian juga mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar kebaikan yang ia tinggalkan. Harta akan ditinggal, jabatan akan dilepas, nama bisa terlupa, namun amal dan doa akan terus berjalan menemani di alam selanjutnya.

Saat kita benar-benar merenungi kematian, hidup menjadi lebih sederhana. Kita belajar tidak berlebihan dalam mencintai dunia dan tidak menunda kebaikan. Kita menjadi lebih lembut pada sesama, lebih rendah hati, dan lebih berhati-hati dalam setiap langkah.

Akhirnya, renungan akan kematian mengajak kita untuk hidup dengan sadar—menjalani hari dengan syukur, malam dengan istighfar, dan hati yang selalu siap pulang. Karena sejatinya, kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang sesungguhnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *