Peran Orangtua sebagai Guru Pertama dalam Menyiapkan Anak ke Jenjang yang Lebih Tinggi
Dibalik setiap anak yang sukses menginjakkan kaki di jenjang pendidikan yang lelbih tinggi, ada sosok orangtua tang lebih dulu menanamkan benih nilai, cinta dan doa.
Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertamanya. Maka, pendidikan sejati sejatinya mulai bukan dari masuk sekolah, melainkan dari keteladanan yang diterima anak sejak kecil.
Orangtua tidak cukup hanya menjadi penyedia fasilitias, tetapi perlu hadir sebagai pembimbing ruhani yang mengarahkan setiap langkah anak agar tidal hanya cerdas dalam akal, tapi juga jernih dalam hati.
Sebagai guru pertama, orangtua perlu membekali anak dengan fondasi yang jauh lebih dalam sekedar kemampuan akademik. Iman yang kokoh harus ditanamkan sejak dini, agar anak mengenal bahwa ilmu sejati bersumber dari Allah dan harus dipergunakan untuk mendekat kepada-Nya.
Adab yang baikpun perlu ditanamkan, sebab adab adalah penjaga ilmu. Tanpa adab, ilmu menjadi kosong dan bahkan bisa menyesatkan.
Orangtua juga harus menanamkan keikhlasan, bahwa belajar bukan untuk gengsi, bukan untuk mengejar jabatan atau harta, tetapi sebagai bentuk ibadah yang berpahala jika diniatkan dengan benar. Dengan demikian, anak tidak akan mudah goyah saat dihadapkan pada tantangan dunia.
Namun, bekal nilai saja tidak cukup jika tidak disertai ikhtiar dan tirakat dari orangtua. Pendidikan anak membutuhkan perjuangan batin yang ringan. Ikhtiar orangtua bukan hanya dalam bentuk kerja keras mencaru nafkah, tatpi juga dalam bentuk kesungguhan mendoakan anak, menjaga lisan dan sikap agar hidup tetap dalam keberkahan serta menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri agar menjadi teladan bagi buah hantinya.
Tirakat dalam makna luas adalah kesediaan orangtua menahan diri dari hal-hal yang sia=sis demi kesuksesan pendidikan anak. Dengan kesungguhan ini ilmu yang dipelajari anak akan lebih mudah mendapat keberkahan dan menjadi ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.
Seringkali orangtua terlalu fokus pada kesiapan fisik anak dalam menghadapi jenjang baru; seragam, alat tulis, sepatu, dan perlengkapan lainnya. Padahal, yang lebih penting adalah kesiapan batin dan jiwa. Anak-anak menbutuhkan kekuatan mental. kesiapan emosional, dan ketenangan spiritual untuk menjalani perubahan dalam hidupnya. Kecemasan, ketakutan atau kebingungan mereka butuh pelukan, bukan perintah. Mereka butuh didengar bukan hanya diarahkan. Maka orantua perlu memastikan bahwa hatinya sendiri tertata rapi, agar mampu menjadi tempat pulang yang nyaman dan kokoh bagi anak-anak mereka.
Mari kita luruskan niat bahwa ilmu bukan sekedar alat mencari penghidupan yang layak. Ilmu adalah jalan cahayta untuk kembali kepada Allah dengan selamat. Maka sebagai orangtua, tugas kita bukan hanya mendorong anak mencapai nilai tinggi atau masuk sekolah favorit, tetapi lebih fdari itu menanmkan makna belajar adalah bagian dari pelajar menuju surga dengan cara ini, ilmu akan berbuah amal.dan akan menjadi bekal terbaik ketika kita dan anak-anak kita kembali menghadap sang pemilik ilmu. semoga setiap langkah dan lelah kita sebagai orang tua menjadi tirakan yang kelak dihitung sebagai amal jarihyah tak putus hingga akhir hayat. By “Rofiurclay”










