Di zaman yang penuh dengan teknologi ini, ilmu agama kerap dipandang sebelah mata dan tidak diperlukan dalam perkembangan teknologi. Padahal kita lupa bahwasannya kita adalah bangsa beragama dan ini tertuang dalam Pancasila yang selalu kita ingat. Banyak yang lupa bahwasannya ulama harus tetap ada sampai akhir zaman nanti, ditambah dengan berbagai paham yang mulai menggerogoti kita mulai dari materialis, liberalis bahkan atheis.
Di tengah keresahan inilah harapan kita tertumpu pada pesantren. Namun ada beberapa fenomena dalam dunia pendidikan kita khususnya dalam pendidikan Islam di Indonesia ini. Yang paling tampak adalah pudarnya pola pendidikan ulama kita terdahulu.
Pola apa yang pudar? Tentu pola pendidikan ulama yang bersifat bertahap. Dari fase ke fase sampai pada tahap akhir sebagai alim. Kita bisa melihat bagaimana sedikit demi sedikit pola ini hilang.
Kalau kita melihat berbagai literatur dari ulama terdahulu seperti Imam Syafii, Imam Nawawi dan para Imam yang lain. Mereka selalu memulai belajar Ilmu Agama dari hal yang sama yaitu Al-Quran. Dari Al-Quran saja sudah ada beberapa tahap seperti membacanya, menghafalnya, sampai menguasai tafsirnya. Lalu dilanjutkan hadist dan lainnya. Pola ini yang hilang. Pendidikan Islam di negara kita terlalu terdistraksi dengan pola pendidikan eropa yang selalu dibanggakan. Kita mulai melupakan pentingnya menghafal, dan mengganggap analisis merupakan kecerdasan yang diimpikan padahal kita lupa dasar dari semua taksonomi bloom dalam pendidikan itu adalah mengingat dan menghafal.
Lalu apa yang terjadi dari fenomena ini. Kita banyak melihat lulusan pondok pesantren namun tidak memiliki kemampuan selayaknya seorang santri. Menyandang gelar santri namun tidak baik dalam membaca Al-Quran. Apalagi menghafalnya. Tidak mampu membaca turast peninggalan ulama kita. Tidak mampu berbahasa Arab yang baik dan benar padahal ini bahasa seluruh literatur Agama kita. Tentu ini menjadi PR besar bagi seluruh pihak baik dari pendidik, wali murid sampai ke peserta didik itu sendiri. Kita perlu belajar banyak ke negara Islam di Afrika dalam pendidikan Islam seperti Libya, Maroko, Sudan dan negara-negara lainnya.










