Ruang Pulang yang Tak Pernah Kutemukan

Tulisan Guru50 Dilihat

Pernahkah kau merasa sendirian meski berada ditengah keramaian? Seolah semua suara di sekitarmu menjadi bising, tapi di dalam dada hanya ada sunyi yang menusuk
Kau tersenyum, menanggapi sapaan, namun dalam hati kau bertanya “apakah ada tempat yang benar-benar mau menerimaku apa adanya” pertanyaan itu seperti bayangan yang setia mengikutimu, bahkan disaat mata terpejam
Aku tau rasanya berlari terlalu jauh, mencari rumah pada wajah orang lain, pada genghaman yang akhirnya melepaskan, pada janji yang patah di tengah jalan
Aku tau rasanya berharap pada sesuatu yang ternyata rapuh. Luka itu tak hanya meninggalkan jejak, ia menorehkan ruang kosong yang lama-lama terasa membeku
Ada malam-malam ketika aku menangis tanpa suara, hanya agar dunia tak tau betapa rapuhnya aku. Ada pagi-pagi ketika aku memaksa berdiri, padahal tubuhku ingin menyerah, semua itu membuatku hampir percaya bahwa rumah tak pernah ada.
Namun perlahan aku belajar, bahwa rumah bukanlah janji yang bisa hilang, bukan juga tangan yang bisa lepas
Rumah adalah diriku sendiri, saat aku memilih untuk menerima segala luka dan memberi maaf pada masa lalu. rumah adalah hati yang rela melepas, tapi juga berani mencintai dengan ikhlas
Dan disini, setelah semua pencarian akhirnya aku paham, ruang pulang paling nyaman itu bernama hati yang lapang, juga diri yang belajar berdamai dengan semua keadaan

_zabirmubarak_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *