Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana dan harapan kita. Ada doa yang belum terwujud, ada usaha yang berakhir dengan kegagalan, dan ada jalan hidup yang terasa berat untuk dilalui. Pada saat-saat seperti itulah kita sering mempertanyakan: mengapa harus terjadi?
Namun sebagai seorang hamba, kita meyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Allah Maha Mengetahui, sementara manusia memiliki pengetahuan yang terbatas. Apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik bagi kita, dan apa yang kita anggap buruk bisa jadi menyimpan hikmah yang besar. Allah berfirman bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, dan sebaliknya.
Takdir bukanlah tanda bahwa Allah tidak peduli. Justru di dalam setiap ketetapan-Nya terdapat kasih sayang, pelajaran, dan kesempatan untuk bertumbuh. Allah menempatkan kita pada situasi tertentu bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan iman, mengajarkan kesabaran, dan mendekatkan kita kepada-Nya.
Ketika kita belajar menerima takdir dengan ikhlas, hati menjadi lebih tenang. Kita memahami bahwa tugas manusia adalah berusaha dan berdoa sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Keikhlasan bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa apa pun yang Allah tetapkan pasti mengandung kebaikan, meskipun belum kita pahami saat ini.
Pada akhirnya, keyakinan bahwa takdir Allah adalah yang terbaik akan menumbuhkan rasa syukur dalam segala keadaan. Saat senang kita bersyukur, saat sulit kita bersabar. Dan di sanalah letak ketenangan sejati, ketika hati yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir hamba-Nya.










