Diam Seribu Makna

Tulisan Guru381 Dilihat

Diam bukan selalu tanpa suara.
Kadang, di balik hening yang sederhana, ada ribuan kata yang ingin disampaikan namun memilih bersembunyi dalam dada. Diam adalah bahasa jiwa—bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati yang peka.

Dalam diam, seseorang bisa sedang menahan luka, tetapi juga mungkin sedang merawat harapan. Diam bisa menjadi tanda seseorang lelah, namun juga pertanda ia sedang belajar memahami. Ada diam yang penuh kesabaran, ada diam yang mengandung doa, dan ada pula diam yang merupakan bentuk kekuatan.

Diam sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Ia mampu mengungkapkan rindu yang tak terucap, amarah yang ditahan, atau cinta yang belum sempat diungkapkan. Kadang, diam adalah cara terbaik untuk menjaga hubungan agar tidak ada kata yang justru melukai.

Namun, diam juga mengajarkan kita mendengar. Saat bibir terbungkam, telinga mulai bekerja, dan hati pun mulai berbicara. Dari sanalah kita mengetahui bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan, dan tidak semua perasaan perlu dipertontonkan.

Diam bukan kelemahan.
Diam adalah ruang bagi seseorang untuk mengenal dirinya, menenangkan batinnya, dan merangkai ulang langkahnya. Di balik diam, ada kekuatan untuk bangkit, keberanian untuk menahan diri, dan kebijaksanaan untuk memilih waktu yang tepat berbicara.

 

Itulah mengapa diam disebut seribu makna.
Karena dalam satu hening, tersimpan sejuta rasa—yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang mau melihat lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *