Aku dan Laut Yang Tenang

Renungan88 Dilihat

Ada sesuatu yang kerap membuat pelupuk mataku basah, meski aku sendiri tak pernah menginginkannya

Barangkali karena di dalam dada ini tersimpan lautan, gelombangnya tak pernah lelah menghantam. Setiap kenangan menjelma karang yang tajam, setiap rindu kembali sebagai ombak, meski berkali-kali ku coba menghalau dari pesisir jiwaku

Ada luka yang tak ingin kubiarkan terlihat, do’a-do’a yang tersangkut di kerongkongan, dan harap cemas yang tak sempat ku ucapkan. Semua itu menumpuk diantara hembusan nafas dan detak yang tak tenang

Pelupuk mataku basah bukan karena lemah, tapi karena bahasa batin yang tak pernah sempat keluar. Ia adalah saksi dari betapa kerasnya aku bertahan, meski dunia kerap menutup pintu bagi setiap keinginan, meski angin kehidupan membelokkan arah harapan yang ku harap tetap lurus. Setiap gelombang mengajarkan tentang kehilangan, tentang rindu yang tak tersampaikan, tentang kenangan yang terus kembali, meski sudah ku lepaskan berulang kali

Mungkin, pelupuk mataku tak juga kering karena ada sesuatu yang belum benar-benar bisa ku lepaskan,entah kenangan yang menempel, entah nama yang terus berdengung di hati, atau mungkin diri ku sendiri yang masih enggan berdamai dengan takdir-Nya

Dan diantara gelombang itu, aku belajar bahwa hati yang basahpun akan menemukan ketenangan, bahwa pelupuk yang lembab pun akan kering seiring menerima apa yang tak bisa diubah, dan bahwa lautan didada bisa tenang, jika aku membiarkan dirinya beristirahat di pelabuhan takdir

 

 

_ZabirMubarak_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *